Sabtu, 15 Januari 2022

Pengendalian Penyakit Filariasis

 Pengendalian Penyakit Filariasis

A. Penyakit Filariasis

Filariasis atau kaki gajah adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria, dan merupakan penyakit tropis yang terabaikan (Negleted Tropical Diseases atau NTD). Di Indonesia, diketahui 3 spesies cacing filaria yaitu: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Infeksi cacing filaria ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang berperan sebagai vektor. Penyakit ini menyerang saluran dan kelenjar getah bening dan kemudian dapat merusak sistem limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae, dan scrotum, menimbulkan cacat seumur hidup serta stigma sosial bagi penderita dan keluarganya (Kemenkes RI, 2014).

Banyak faktor risiko yang mampu memicu timbulnya kejadian filariasis. Beberapa diantaranya adalah jenis kelamin, usia, pekerjaan, faktor lingkungan, perilaku. Pada umumnya kelompok umur dewasa muda dan laki-laki lebih banyak yang terkena infeksi karena laki-laki lebih besar kesempatan untuk terpapar dengan infeksi (exposure) daripada perempuan (Sutanto,2009).

Penyakit filariasis (kaki gajah) merupakan penyakit infeksi yang bersifat menahun disebabkan cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk (Kemenkes RI, 2015). Menurut Ditjen P2P 2020 Kemenkes RI, pemberian obat pencegahan masal mengalami peningkatan setiap tahunnya, puncaknya berada di tahun 2019 yang menyentuh angka 79,31.


Pengendalian Penyakit Filariasis Cakupan POPM Pada Tahun 2010-2019

NO

TAHUN

CAKUPAN POPM

1

2010

39.40

2

2011

37.70

3

2012

56.50

4

2013

66.90

5

2014

73.90

6

2015

69.50

7

2016

76.70

8

2017

78.20

9

2018

77.48

10

2019

79.31









(Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI 2020)

(Sumber: Ditjen P2P, Kemenkes RI 2020)


B. Pencegahan Penyakit Filariasis

Cara pencegahan filariasis yaitu dengan:

1.      Memberikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis mengenai cara penularan dan cara pengendalian vektor (nyamuk).

2.  Berusaha menghindari diri dari gigitan nyamuk vektor, misalnya: dengan menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk bakar atau semprot, mengoles kulit dengan obat anti nyamuk.

3.  Peningkatan peran serta masyarakat dengan membentuk petugas Pengawas Minum Obat (PMO) untuk mengawasi / memantau penderita kaki gajah untuk meminum Obatnya secara teratur.

4.  Mengidentifikasi vektor dengan mendeteksi adanya larva infektif dalam nyamuk dengan menggunakan umpan manusia, mengidentifikasi waktu dan tempat menggigit nyamuk serta tempat perkembangbiakannya. Jika penularannya terjadi oleh nyamuk yang menggigit pada malam hari di dalam rumah maka tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan, menggunakan pestisida residual.

5.     Memberantas jentik-jentik nyamuk dengan membersihkan bak air di rumah.

6.   Penerapan program 3M (Menimbun, mengeringkan atau mengalirkan genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk).

7.     Membersihkan semak-semak disekitar rumah.

8.     Pengobatan massal filariasis.

9.   Membersihkan lingkungan untuk mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk penular kaki gajah.

10. Peningkatan PSP masyarakat tentang penyakit kaki gajah melalui kegiatan penyuluhan peningkatan peran serta masyarakat dengan membentuk petugas Pengawas Minum Obat (PMO) untuk mengawasi / memantau penderita kaki gajah untuk meminum Obatnya secara teratur.

11. Obat yang digunakan untuk pengobatan filariasis, yaitu:

-          Diethylcarbamazine Citrate (DEC).

-          Albendazole.


Kesimpulan:

Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria, dan merupakan penyakit tropis yang terabaikan. Penyakit filariasis di Indonesia masih merupakan problem kesehatan masyarakat yang memberikan dampak ekonomi sosial yang negative berupa produktivitas kerja yang menurun dan beban ekonomi sosial bagi yang menderita elephantiasis.

Pemberantasan filariasis perlu dilaksanakan degan tujuan menghentikan transmisi, diperlukan program yang berkesinambungan dan memakan waktu lama, mengingat masa hidup cacing dalam regimen yang sama. Deteksi daerah endemis dilakukan melalui penemuan penderita elephantiasis dan pemberantasan oleh puskesmas melalui pengobatan dan penyuluhan.



DAFTAR PUSTAKA

Inayati, U. B., & Herlina, S. (2019). Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Filariasis Dengan Pencegahan Penyakit Filariasis Di Rw 05 Kelurahan Beji Timur Kota Depok. Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia, 1, 136–151. https://doi.org/10.52020/jkwgi.v1i0.842

Masriana, Juliandi, & Muhammad, I. (2019). Analisis Kualitatif Perilaku Masyarakat Terhadap Pencegahan Penyakit Filariasis Di Desa Matang Pelawi. Health Care : Jurnal Kesehatan, 8(2), 08–22. https://doi.org/10.36763/healthcare.v8i2.54

Onggang, F. S. (2018). Analisis Faktor Faktor Terhadap Kejadian Filariasis Type Wuchereria Bancrofti, Dan Brugia Malayi Di Wilayah Kabupaten Manggarai Timur Tahun 2016. Jurnal Info Kesehatan, 16(1), 1–20. https://doi.org/10.31965/infokes.vol16.iss1.165

Yuziani, Y., Rahayu, M. S., & Mellaratna, W. P. (2021). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kepatuhan Pengobatan Massal Filariasis Di Kecamatan Baktiya Aceh Utara. AVERROUS: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Malikussaleh, 7(1), 95. https://doi.org/10.29103/averrous.v7i1.4728


Kelompok : 5 (4B/S1 Keperawatan)

Anggota : Alfida Nurzakiyah, Endi Sugandi dan Laras Firdawanti